Senin, 08 Desember 2008

Korupsi Isu Pemimpin Kini


Kita sengaja kembali mengangkat satu penyakit kronis bangsa ini: korupsi! Isu itu kita angkat berbarengan dengan masa kampanye Pemilu 2009.
Laporan harian ini menggambarkan betapa virus korupsi merambah ke seluruh pelosok Tanah Air. Hampir tidak ada wilayah yang bebas dari korupsi. Dari sisi profesi, hampir semua profesi mempunyai wakil di dalam tahanan karena terjerat korupsi. Ada jaksa, ada hakim, ada polisi, ada advokat, ada politisi, ada aktivis LSM, ada pula pengusaha atau pelobi perkara.
Kita prihatin dengan terus merebaknya korupsi. Seakan korupsi terus saja terjadi, dan tidak ada tanda-tanda pelambatan, kendati sistem politik Indonesia telah berubah dari otoriter menuju demokrasi. Pola korupsi memang berubah. Jika pada Orde Baru korupsi terpusat di Jakarta, kini bergerak ke daerah. Kalau pada era Orde Baru korupsi berpusat pada eksekutif, kini legislatif dan yudikatif mulai ikut-ikutan.
Lalu, apa artinya 10 tahun reformasi? Kita tidak ingin reformasi hanya berarti perubahan konstitusi yang berimplikasi pada perubahan sistem pemilu atau sistem politik. Kita berharap reformasi menyentuh perubahan perilaku, perubahan cara hidup yang menempatkan secara tegas ”milikmu” dan ”milikku”.
Kita sungguh bertanya-tanya mengapa sikap keras Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan menyadap, menangkap, dan kemudian menahan orang yang diduga melakukan suap atau korupsi tidak membuat orang takut atau gentar. Bahkan, seorang tahanan yang ditangkap KPK setelah teleponnya disadap kembali melakukan percakapan telepon dengan sesama tahanan, dan kembali lagi disadap KPK.
Publik kadang sampai kehabisan akal bagaimana korupsi diberantas. Ataukah pemberantasan korupsi hanya retorika atau jargon politik untuk meraih kekuasaan? Ataukah kita memang sebenarnya menikmati sistem yang korup seperti ini sehingga tema pemberantasan korupsi hanya retorika politik belaka?
Korupsi adalah isu terkini yang harus dijawab partai politik, calon anggota legislatif, calon presiden dalam Pemilu 2009. Mereka semuanya, termasuk kelompok masyarakat, harus berpikir keras untuk menjawab permasalahan korupsi ketika langkah legal formal sudah tidak mampu lagi menghentikan praktik korupsi.
Gagasan memberlakukan hukuman mati bagi mereka yang mengorupsi uang rakyat, seperti diterapkan Pemerintah China, memang akan ditentang aktivis hak asasi manusia sebagai pelanggaran HAM. Meski demikian, praktik korupsi juga jelas-jelas merupakan pelanggaran hak ekonomi, sosial, dan budaya.
Calon presiden 2009, pemimpin partai politik, pemimpin ormas, dan pemimpin agama harus menyatukan pandangan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa, yang harus ditindak secara luar biasa pula. Ide pembuktian terbalik yang belum diadopsi sistem hukum Indonesia perlu dipikirkan jika memang langkah itu diyakini bisa menjadikan Indonesia bebas korupsi!

KEBANGKITAN GURU PENDIDIKAN SENI BUDAYA


Dalam kurun waktu sekitar tiga tahun terakhir, perkembangan dunia seni rupa di Indonesia setidaknya yang saya amati di wilayah Yogyakarta nampak begitu bergemuruh, hangar-bingar, dan penuh dinamika. Pekembangan ini tidak berdiri sendiri, namun sedikit banyak memiliki jalur relasi dengan isu bubble market yang telah meledak, terutama di seni rupa kontemporer China dan berimplikasi ke segala penjuru, termasuk di Indonesia. Untuk konteks perbincangan seni rupa di Indonesia, situasi ini berkait dengan tiga hal yang saling bertali-temali satu sama lain, yakni ihwal kreasi, mediasi, dan resepsi.
Ihwal kreasi berpijak pada bergairahnya para seniman atau perupa dalam melakukan praktik proses kreatif untuk memproduksi karya. Untuk kasus di wilayah Yogyakarta yang saya amati, praktik ini banyak dibentuk (karakternya) oleh spirit komunalitas Yogyakarta yang amat kodusif. Ada iklim keguyuban yang saling mempengaruhi, saling bantu, saling berkompetisi yang relative cukup sehat antar seniman dan antarkelompok seniman. Kesenimanan para (calon) seniman banyak dibantu oleh situasi ini. Dan tentu saja di-back up dengan cukup akomodatif oleh lembaga pendidikan seni di tingkat perguruan tinggi dan sekolah menengah, juga komunitas-komunitas yang merimbun di kawasan ini. Spirit komunalitas yang terbangun secara antarpersonal dan antarkomunitas dalam dunia internal seni rupa, juga disiplin (ilmu, profesi) lain telah melahirkan jejaring interkoneksitas yang konstruktif untuk mengayakan jagad citra kreatif perupa Yogyakarta.
Sementara ihwal mediasi menyoal pada problem penempetan keluaran kreatif seniman yang dipresentasikan ke ruang publik dan kemudian masuk dalam ruang-ruang social(isasi) yang lebih luas. Mediasi dan sosialisasi di tingkat pertama adalah ketika karya seniman dipresentasikan di ruang-ruang publik seni seperti galeri atau ruang pameran lain. Kemudian, bertingkat pada sosialisasi karya seni kepada masyarakat lewat peran mediator seperti jurnalis, kurator dan kritikus atau pengamat seni yang sedikit banyak telah membantu mendistribusikan ide kreatif dan pemikiran seniman ke dalam ranah yang lebih luas lagi. Tak sedikit pameran berkualitas berlangsung di sebuah galeri di Yogyakarta, misalnya, yang kemudian dimediasikan dengan baik dan meluas oleh media massa, telah beresonansi jauh melampaui batas-batas geografisYogyakarta. Mediasi ini lalu beranak-pinak melahirkan pewacanaan yang dibawa oleh karya kreatif. Di satu sisi seniman “mengabarkan” hasil representasinya atas realitas sosial dan realitas imajinasinya lewat karya. Sedang di sisi lain, representasi itu telah “beralih rupa” oleh pembacaan publik (seni) di kawasan yang sama atau kawasan lain menjadi wacana realitas kreatif. Di sinilah kemudian pewacanaan seni rupa berlangsung dengan lebih luas dan bertingkat-tingkat.
Sedangkan ihwal resepsi lebih menyoal pada masalah daya serap yang melibatkan publik seni dan masyarakat luas dalam mengapresiasi atau menonton karya seni rupa, karena merekalah salah satu tujuan utama hasil proses kreatif dimuarakan. Seperti halnya poin kedua, resepsi (serapan) publik ini dibayangkan akan berimplikasi pada merebaknya pewacanaan yang meluas dan inspiratif bagi publik. Meski demikian, ada kesadaran awal yang mesti lebih dulu dipahami bahwa publik memiliki keragaman (latar belakang pendidikan, sosial, intelektualitas, dan lainnya yang berkait) dalam membaca dan memahami karya seni.
Publik seperti “pemilahan” yang dikategorisasikan oleh Roland Barthes dalam Image-Music Text (1997) ada yang membaca karya dalam tahap perseptif, yakni berupaya melakukan transformasi gambar ke kategori verbal atau membangun imajinasi sintagmatik. Lalu tahap kognitif, yaitu membangun konotasi atas gambar dengan bekal pengetahuan kultural tertentu beralaskan imajinasi paradigmatik. Dan berikutnya tahap etis-ideologis, yakni tahap pembacaan konseptual yang didasarkan oleh imajinasi simbolik.
Tahapan atau hierarkhi ihwal resepsi di atas merupakan fakta yang tak dapat ditolak, tetapi justru bisa didekati oleh seniman sebagai sebuah strategi dalam berkesenian. Karena secara obyektif dapat dilihat bahwa problem terbesar dari paparan di atas adalah pada ihwal resepsi. Tak sedikit seniman di sekitar kita yang telah berkarya sangat intensif-kreatif tetapi belum menemukan muara resepsi dari publik yang cukup memadai.
Dengan melihat realitas yang terjadi secara umum di peta seni rupa Indonesia dewasa ini, lalu, apakah fakta tersebut juga senafas dengan yang terjadi di medan seni rupa “yang lain”, misalnya jagad seni rupa yang diampu oleh para pendidik di bangku-bangku sekolah? Lebih dari itu, apakah para pendidik seni rupa di bangku sekolah juga berperan menjadi aktor penting yang mampu memediasikan kecenderungan praktik dan pewacanaan seni rupa terhadap anak didiknya? Apakah dinamika seni rupa dewasa ini juga bergaung dan mengimbas pada cara berpikir anak didiknya?
Rentetan pertanyaan ini niscaya bukanlah hal yang baru dimunculkan. Namun justru karena bukan perkara yang baru, maka patut diduga ada problematika yang cukup kompleks antara fakta yang mengemuka atas dinamika tersebut dan realitas yang bergerak di dunia pendidikan seni. Problem itu, terutama, adalah keberjarakan yang timpang, yang pertautan antara keduanya seolah merupakan dua kontruks bernama fakta dan mitos. Pemahaman ihwal fakta mengacu pada kejadian, situasi, kualitas, hubungan atau keadaan yang sungguh-sungguh ada dan terjadi secara aktual dan nyata. Sedang mitos dimengerti sebagai suatu cerita yang dianggap benar, tetapi tidak diakui sebagai benar, karena ada sedikit hubungan dengan ihwal metafora atau semacam perumpamaan. Sehingga realitas yang terjadi tentang dinamika seni rupa, ketika dikembalikan dalam konteks pendidikan seni rupa, sekali lagi, akan serupa dengan relasi antara fakta dan mitos. Seolah-olah senyatanya ada, namun bisa jadi kabur di tengah realitas lain yang berseberangan.
Kita bisa menyimak, misalnya, deretan contoh-contoh yang tak bisa dipungkiri masih saja terjadi di tengah-tengah kita. Contoh yang paling melegenda adalah narasi tentang Raden Saleh yang punya pengalaman dipinggirkan dalam pergaulan antarseniman saat awal-awal menetap di Eropa dulu. Sehingga, Raden Saleh sampai “memalsu” dengan membuat patung serupa dirinya yang tergeletak berdarah-darah di kamarnya. Kawan-kawannya kaget, iba, dan setelah itu menaruh hormat kepada Raden Saleh sebagai seniman Timur yang berbakat. Kisah ini, entah benar adanya sebagai fakta atau sekedar kerja para penggosip jaman dulu, ternyata telah menjadi sebuah mitos bagi banyak anak-anak SD, SMP, bahkan SMA yang mempelajari sejarah seni rupa Indonesia, khususnya tentang Raden Saleh.
Bagi saya, bukan soal benar-salahnya itu terjadi, namun lebih pada penggiringan ingatan anak-anak akan potongan kisah sejarah seni rupa yang cenderung membodohkan. Jarang di bangku sekolah diajarkan dengan detail tentang karya lukis “Penangkapan Diponegoro”-nya Raden Saleh yang bernilai patriotik dan heroisme karena secara lugas, langsung dan tegas menentang penggambaran ihwal penangkapan Diponegoro yang dimonumenkan secara subyektif versi Hindia Belanda lewat lukisan Jan Pieneman beberapa tahun sebelumnya. Artinya, di sini, problem dunia seni rupa yang ternyata memiliki content mendalam dan dijadikan sebagai alat perjuangan, tak banyak diketahui oleh para pendidik seni rupa. Mereka, barangkali hanya sibuk mempermasalahkan dunia seni rupa sebagai dunia keindahan, komposisi, warna, dan ihwal yang berkait dengan soal eksotika visual dan kebentukan semata. Jarang menyentuh pada problem pendalaman makna yang terkandung dalam teks seni rupa.
Juga, contoh lain, ihwal penteorisasian yang diimplementasikan secara sembrono. Misalnya, dalam soal aliran karya seni lukis karena pendidik seni rupa masih banyak yang mendasarkan adanya aliran-aliran. Banyak dikatakan dalam kelas bahwa aliran lukisan maestro Indonesia Affandi adalah ekspresionisme. Aliran ini diterangkan sebagai aliran lukisan yang dasarnya adalah melukis dengan cepat atau ekspres (mengacu pada kereta ekspres, bus ekspres, dan semacamnya). Bukan pada pemahaman yang tepat bahwa Affandi mengedepankan aspek ekspresi diri yang ditumpahkan secara ekspresif tatkala melukis. Bagi saya, ini bukan lagi sebuah praktik simplifikasi terhadap anak didik. Parahnya, kalau narasi tersebut dipahami sebagai fakta dan kebenaran.
Inilah salah satu contoh adanya keberjarakan yang menguat dalam jagad dunia pendidikan seni rupa, yang cukup berseberangan dengan perkembangan seni rupa di “pentas yang lain”. Keduanya seolah bergerak sendiri-sendiri, dan yang satu menciptakan faktanya sementara di bangku sekolah menciptakan mitos semaunya. Maka, yang terjadi adalah interpretasi-interpretasi yang semu dan menjauhi “kebenaran”.
Adakah ini berkait dengan proses pembelajaran seni rupa yang kurang menggairahkan di bangku sekolah?
Menurut Robert H. Beck, Walter W. Cook, dan Nolan C. Kearney (1963) ada tiga hal penting yang idealnya diketahui tentang kurikulum, yaitu tujuan, metode dan perlengkapan pembelajaran, serta karakter peserta didik. Terkait dengan karakter anak didik, merumuskan kurikulum untuk mereka tak bisa dilepaskan dari perkembangan anak, baik itu perkembangan sosial, belajar, bermain, emosi, moral, spiritual, dan sebagainya. Dua hal penting yang perlu ditekankan di sini adalah kebutuhan anak untuk bermain dan bersosialisasi. Maka, tidak akan optimal sebuah pembelajaran, jika tidak memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak. Ini juga menjadi satu upaya untuk mendudukkan anak secara ‘manusiawi’ dalam proses belajar.

Sementara Carl Bereitel (1974) menulis bahwa kekuatan terbesar pembelajaran adalah pengembangan aspek kognitif. Pembelajaran di sekolah, jelas, memiliki pengaruh kognitif pada anak. Secara kognitif, dengan belajar di sekolah, anak akan belajar mengkode informasi, narasi secara sistematis, mengkategorikannya, dan kemudian mengingatnya secara efektif. Dengan kata lain, anak akan belajar mengorganisasikan informasi, termasuk informasi yang abstrak.
Maka kalau pendidik mengelirukan sebuah narasi dan informasi, apalagi dengan “sewenang-wengang” seperti kisah Raden Saleh dan Affandi, maka, ada banyak hal yang harus dibenahi di sini. Misalnya metode pembelajaran. Perlu metode yang, misalnya, yang dapat merangsang rasa ingin tahu peserta, apalagi pendidik menerapkan permainan dalam belajar (learning games). Terus terang, saya tidak akan memberikan resep konkret atas problem metode tersebut. Namun pada intinya, transfer pengetahuan tentang seni rupa dalam dunia pendidikan dewasa ini mesti dilakukan dengan “gerakan” yang lebih besar dan menyeluruh untuk mengejar ketertinggalan antara yang berada di dunia pendidikan dan “dunia pentas yang lain”, untuk memotong pendek antara yang fakta dan mitos. Semoga bisa! Salam!

Istikharah

Tidaklah akan merugi orang yang suka beristikharah (memohon petunjuk dengan bersalat) dan tidaklah akan bersedih hati orang yang suka bermusyawarah, serta tidak akan kelaparan orang yang rajin menabung. (Nabi Muhammad SAW)Memohon petunjuk Allah dengan bersalat merupakan kegiatan ibadah yang selalu kita lakukan. Ibadah yang satu ini unik dan misterius. Disebut unik karena dalam ibadah ini seolah-olah kita menelepon langsung kepada Tuhan SWT.

Disebut misterius karena selalu ada jawaban atas petunjuk yang kita minta. Jawaban yang datang sering seketika. Bisa lewat mimpi, sering pula lewat gejala yang nampak dalam kegiatan kita sehari-hari. Misalnya, kita memohon jodoh. Gambaran orang yang akan menjadi jodoh kita -- kadang berwujud wajah -- muncul di hadapan kita.Ibadah istikharah ini mengasah sensitivitas kita. Makin sering dilakukan, makin baik. Juga mengajarkan supaya kita selalu ingat kepada hal-hal yang baik saja.

Apalagi jika kita hidup dalam suatu komunitas yang selalu menghendaki kita untuk bermusyawarah. Memohon petunjuk tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keselamatan masyarakat tempat kita hidup. Hadis riwayat Thabrani di atas mengajarkan bahwa hidup ini dapat dibangun dengan selalu memohon petunjuk Allah. Apalagi zaman sudah semakin rumit oleh perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Hidup sehari-hari semakin membutuhkan keterampilan kita dalam mengatasinya. Kerumitan di kota-kota besar tidak kalah rumitnya dengan hidup di desa. Di kota, semuanya bisa menjadi kenyataan tetapi sangat mahal biayanya. Di kampung, impian susah menjelma, tapi kelestarian mudah didapat.

Agaknya di kota maupun di desa kita perlu berhemat dalam segala hal.Bagi para calon jemaah haji, di Tanah Suci adalah kesempatan yang seluas-luasnya untuk memohon petunjuk Allah SWT. Apalagi di masjid yang tersuci itu, Masjidil Haram. Bahkan sering kejadian, di depan Ka'bah kita dikaruniai petunjuk sebelum kita memohonnya. Petunjuk itu bahkan di luar batas kesadaran permohonan kita. Tidak perlu malu memohon petunjuk kepada Tuhan karena barangkali kita terlalu cerewet.

Insya Allah Tuhan senang-senang saja atas ulah kita itu dan kita senang karena yang memberi petunjuk Tuhan sendiri. Malu bertanya, sesat di jalan, adalah petuah yang sudah kita resapi sejak kita kecil. Ayolah kita berangkat untuk beristikharah sekarang juga, mumpung kesalahan-kesalahan yang kita buat belum semakin banyak.

Sabtu, 06 Desember 2008

INDONESIA MEMILIH


JAKARTA (Lampost): Wajah baru yang direpresentasikan dengan presiden periode 2009--2014 dalam Pemilu 2009 mendatang cukup terbuka lebar. Hal ini ditegaskan konsultan politik Uncu Natsir, Senin (1-12), di Jakarta. "Saya kira peluang munculnya presiden baru akan terwujud dalam Pemilu 2009," kata Uncu.
Menurut Uncu, presiden baru yang dimaksud jelas bukan SBY maupun Mega. "Kemungkinan itu ada, apalagi jika merujuk ketentuan UU Pilpres tentang persyaratan 20% kursi atau 25% suara nasional. Jika memakai logika syarat 20% yang berkemungkinan mencalonkan presiden adalah Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Dengan kondisi ini, justru menurut saya, ada semangat memunculkan calon dari partai tengah, minimal satu nama," kata dia.
Jika perolehan suara Partai Golkar suaranya lebih besar, menurut Uncu, kemungkinan Partai Golkar akan memunculkan capres sendiri. Jika bukan Jusuf Kalla, ada kemungkinan calon alternatif dari Partai Golkar.
Namun demikian, Uncu mengatakan calon alternatif bakal muncul dari partai tengah, yaitu PKS, PAN, PKB, dan PPP. Gerindra, menurut Uncu, bisa jadi masuk di level partai tengah. "Karena itu, saya punya keyakinan bahwa akan muncul capres alternatif. Jadi capres 2009 tidak hanya SBY dan Mega," kata dia.
Terkait syarat capres alternatif agar mampu bersaing, Uncu mengatakan harus memiliki diferensiasi terhadap SBY dan Mega. Kalau kadarnya sama, menurut dia, tidak mungkin bisa menyamai SBY maupun Mega. "Capres alternatif harus punya kelebihan yang lain yang bisa dijual. Misalnya soal keberanian dalam pengambilan keputusan yang tepat, yang tidak dimiliki oleh SBY dan Mega," kata dia.Menurut dia, akan lebih menarik lagi jika capres alternatif memiliki konsep yang brilian untuk mengatasi krisis finansial yang bakal menemui puncaknya bersamaan dengan pelaksanaan Pemilu 2009. "Hal ini akan menyulitkan posisi SBY, meski sebagai presiden ia sudah melakukan ragam paket kebijakan untuk menangkal krisis finansial global. Kalau ada orang yang cerdas dan bisa memberi solusi bagi Indonesia, peluang munculnya presiden baru dalam Pilpres 2009 sangat terbuka," kata dia

Senin, 01 Desember 2008

Sambutan Seminar Pencerahan Guru dalam Rangka Seabad Kebangkitan Nasional


TRANSKRIPSI SAMBUTAN IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIAPADA ACARA SEMINAR PENCERAHAN GURU DALAM RANGKA PERINGATAN SEABAD KEBANGKITAN BANGSA DAN HUT KE-3 MOBIL PINTAR UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA, RAWAMANGUN, 10 MEI 2008


Bismillahirrahmanirrahim,Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Salam sejahtera buat kita sekalian,Yang saya hormati Bapak Menteri Pendidikan Nasional, yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Dirjen Dikti Bapak DR. Fasli Jalal,Yang saya hormati Bapak Menteri Pemuda dan Olahraga atau yang mewakili,Yang saya hormati Bapak Prof. Bejo Suyanto, Rektor Universitas Negeri Jakarta, beserta para Dosen dan seluruh Jajaran Civitas Akademika,Yang saya sayangi Ibu Widodo dan Teman-teman dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, para Pimpinan Lembaga Pendidikan, para Peserta Seminar, Undangan, Hadirin sekalian yang berbahagia,Pada pagi hari yang membahagiakan ini, saya pun ingin mengajak sekali lagi hadirin sekalian untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya lah, maka pada pagi hari ini, kita dapat hadir di Universitas Negeri Jakarta untuk mengikuti Seminar Pencerahan Guru untuk Kader Bangsa. Bapak DR. Bejo yang saya hormati, Ini adalah kesempatan pertama kali saya berkunjung ke Universitas Negeri Jakarta ini. Pemilihan Universitas Negeri Jakarta sebagai tempat seminar, saya anggap sangat tepat. Karena kita semua mengetahui bahwa Universitas Negeri Jakarta merupakan salah satu pabrik yang menghasilkan para guru yang handal dan juga tenaga kependidikan yang handal. Bahkan tadi Ibu Widodo mengatakan, bahwa banyak sekali peserta seminar kali ini merupakan lulusan dari Universitas Negeri Jakarta. Kalau boleh saya tahu siapa yang lulusan UNJ? Boleh angkat tangan. Satu, dua, tiga banyak sekali. Alhamdulillah-alhamdulillah dan perlu saya beritahu juga bahwa salah seorang ADC saya atau ajudan yang berpangkat Letnan Satu Mia dari Angkatan Udara juga lulusan dari UNJ. Sayang dia sedang tidak bertugas, tetapi dia menyampaikan salam juga dan rasa bangganya sebagai lulusan dari Universitas Negeri Jakarta.Universitas ini sudah berusia 44 tahun dan juga sudah menghasilkan 50 kurang lebih 53 ribu guru atau lulusan, baik itu TK, SD, SMP dan SMA. Bapak Bapak DR. Bejo tadi mengatakan 85% lulusan dari Universitas Negeri Jakarta tetap memilih profesinya sebagai guru, dan 15% lainnya memilih profesi yang lain, termasuk yang tadi saya katakana ADC saya atau ajudan dari Ibu Negara.Hadirin sekalian, Semoga Universitas Negeri Jakarta ke depan akan menghasilkan, terus menghasilkan tenaga kependidikan yang bermutu tinggi untuk memenuhi kebutuhan sistem pendidikan nasional kita. Seperti kita ketahui bahwa salah satu cita-cita para founding fathers kita mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan kecerdasan yang telah dimilikinya itu diharapkan bangsa kita akan sanggup mengisi kemerdekaan dengan melakukan pembangunan di semua bidang kehidupan. Tujuan akhirnya tiada lain yang ingin dicapai adalah masyarakat Indonesia yang adil, yang makmur, dan yang sejahtera.
Para Peserta Seminar yang berbahagia, Perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bangsa itu adalah perjuangan tanpa mengenal batas akhir. Setiap generasi mempunyai tantangan dan perjalanan sejarahnya sendiri-sendiri. Namun yang pasti mereka ingin menyumbangkan karya terbaiknya bagi kemajuan bangsa. Dalam memperingati 1 Abad Kebangkitan Nasional, mari kita bertekad menyatukan pikiran kita, menyatukan langkah kita, dan tindakan kita untuk melanjutkan pembangunan bangsa menuju negara yang maju atau development country. Insya Allah sebelum medio abad 21 sesuai dengan harapan dan ajakan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sering disampaikan pada beberapa kesempatan.Berangkat dari ajakan Presiden tersebut ke depan, mari kita terus tingkatkan kemandirian, daya saing dan peradaban bangsa, agar semakin terhormat. Dalam kaitan itu, pendidikan dalam arti luas memiliki peran yang sangat penting. Saat ini Pemerintah terus berusaha mengembangkan dan menjalankan pendidikan yang semakin berkualitas, semakin mudah dijangkau, semakin murah, dan insya Allah gratis bagi yang miskin. Tentu kita wajib dan patut mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah dengan sungguh-sungguh melakukan upaya untuk menyejahterakan guru, yang tentu saja harus disesuaikan dengan kemampuan belanja negara. Alokasi anggaran untuk pendidikan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD, memang belum mampu diwujudkan saat ini. Dengan kata lain, tentu harus ditempuh step by step atau bisa dikatakan secara bertahap, mengingat sektor-sektor pembangunan lainnya juga membutuhkan biaya dan alokasi yang seimbang.Pada kesempatan yang baik ini, kita juga patut memberikan penghargaan kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan juga Pemda-pemda yang lain, yang sudah dapat memenuhi target tersebut. Bahkan DKI Jakarta, saya dengar sudah mengalokasikan 21% dari APBD-nya untuk anggaran pendidikan. Para Peserta Seminar yang berbahagia,Pendidikan yang berkualitas sesungguhnya mencakup sistem pendidikan yang baik dan tepat, metodologi dan pengasuhan yang tepat, kurikulum yang tepat, serta mutu para pendidiknya. Dengan strategi, kebijakan, dan konsep seperti itu sangat jelas bahwa guru memiliki peran yang sentral. Di sini kita bisa melihat, bahwa kewajiban Pemerintah untuk terus memikirkan kualitas dan kesejahteraan guru, sedangkan kewajiban guru mengembangkan metodologi pengajaran, sistem pengasuhan, termasuk cara mengevaluasi peserta didik. Anak remaja dan generasi muda kita menghabiskan waktu paling tidak 9 tahun di sekolah bersama-sama dengan guru. Oleh karena itu, peran guru sangatlah penting untuk menanamkan nilai, membentuk perilaku bagi siswanya. Menyangkut perilaku itu juga mencakup disiplin, sikap rukun satu sama lainnya, mengembangkan kasih sayang antara sesama, penghormatan kepada orangtua dan guru, kepatuhan kepada pranata hukum dan lain-lainnya. Sekali lagi, semua ini memerlukan metode belajar dan sistem pengasuhan yang tepat. Pranata hukum yang perlu diketahui oleh anak didik adalah hukum yang berlaku secara nasional, seperti Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Hukum yang berlaku secara lokal, seperti Peraturan Daerah dan masih banyak lagi peraturan-peraturan lain yang merupakan inovasi dari sekolah dan para guru itu sendiri. Seperti misalnya kalau seorang murid harus masuk dalam sekolahnya atau masuk dalam kelasnya pukul 07.00 tepat dan kembali pukul 14.30, itu merupakan inovasi dari sekolah masing-masing. Kemudian barangkali seorang guru juga mempunyai aturan-aturan tersendiri bagi murid-muridnya, itu juga merupakan inovasi dari masing-masing guru. Jelaslah guru merupakan salah satu aktor penting dan memiliki peran utama dalam human resource development atau pengembangan sumber daya manusia. Tidak dapat dipungkiri, bahwa karena pengabdian gurulah lahir para pemimpin bangsa dan para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. Demikian pentingnya peran seorang guru, terutama bila dihadapkan pada tugas dan fungsi utamanya sebagai seseorang yang tidak hanya melakukan knowledge transfer, tetapi juga membimbing dan mengasuh anak didiknya sesuai dengan bidang studinya.Seorang guru dituntut untuk dapat mengembangkan multipotentiality anak didik yang meliputi segala dimensi kecerdasan, dari intellectual adversity, greatersity, spiritual dan emotional. Saya perlu mengingatkan kembali kepada para guru dalam melaksanakan tugas mulia tersebut, seorang pendidik perlu memiliki 4 hal utama, yaitu kompetensi, kesabaran, kreativitas dan keteladanan. Seorang guru harus memiliki kompetensi yang berarti mempunyai kemampuan teknik mengajar maupun penguasaan materi pelajaran. Berikan penjelasan kepada anak didiknya dengan gamblang, jangan hanya sekedarnya saja dan jangan berpikir yang penting sudah saya jelaskan, mau mengerti, mau tidak, itu bukan urusan saya, itu urusan anak didik sendiri. Hal ini yang harus kita cegah. Ingat pada tahun 2004 yang lalu, Presiden sudah mencanangkan guru sebagai profesi, pertanggungjawabkan profesi itu sebaik-baiknya untuk meningkatkan mutu hasil didik kita.Seorang guru juga harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang begitu cepat terjadi pada era global ini, sehingga dia harus aktif mengikuti updating terus-menerus di bidang keilmuannya, baik melalui berbagai literatur, jurnal, artikel maupun memanfaatkan teknologi internet. Selain itu juga harus terus-menerus mengikuti perkembangan yang terjadi di dalam negeri, syukur-syukur kalau bisa mengikuti pula perkembangan di luar negeri. Sehingga suatu saat bila anak didiknya menanyakan, maka seorang guru bisa menjadi narasumber yang baik akan keadaan ataupun kejadian yang terjadi, baik di Indonesia maupun di luar negeri.Para Guru dan para Peserta Seminar yang berbahagia, Ketika saya masih kecil dulu, guru selalu mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya, yang subur, yang makmur, adil dan sentosa, hanya sampai di situ saja. Tetapi kenyataannya setelah saya menjadi pendamping Presiden Republik Indonesia, ternyata kondisi bangsa Indonesia bukan hanya kelebihannya saja, tapi termasuk kekurangannya. Ini yang tidak pernah disampaikan oleh guru kami pada jaman dahulu. Oleh karena itu menurut saya, hal inilah sesuai dengan apa yang terjadi sebagai experience kita, sebagai pengalaman hidup kita, ternyata Indonesia memang memberikan kekayaan ataupun Allah SWT memberikan segala anugerahnya kepada bangsa Indonesia, kekayaan tambangnya, kekayaan alamnya, tetapi sekaligus dengan hambatan dan tantangannya.Indonesia terletak di antara 2 benua, Indonesia terletak di antara 2 samudra, tetapi Indonesia juga terletak pada 3 lempengan, lempeng bumi yang kita sebut dengan nama lempeng Indo-Australia, Ero-Asia dan lempeng Pasifik yang dari sejak terjadinya bumi ini, lempeng tersebut selalu jalan, selalu bergerak dan kadang-kadang terjadi tumbukan. Bila terjadi tumbukan, maka terjadi gempa bumi. Bila gempa buminya terjadi secara vertikal, maka tidak menyebabkan tsunami, tetapi kalau horizontal, terjadilah tsunami, karena pada magnitude yang sangat tinggi. Ini yang harus diberikan juga pengetahuan kepada anak-anak kita. Sehingga kelak anak-anak kita ketika dewasa pun akan bisa mengetahui dengan pasti dan mereka yang akan menjadi para pemimpin di Indonesia ini, juga sudah siap dengan segala kelebihan dari bangsa kita, dari negara kita, tetapi juga siap jika menghadapi hambatan, tantangan, dan juga cobaan dari Allah SWT.Hadirin sekalian,Seorang guru harus pula memiliki kesabaran dalam mendidik. Dia harus memahami bahwa tugas guru selain memberikan ilmu, juga memiliki tugas membimbing dan mengasuh anak didiknya. Dalam hal ini perlu dikembangkan sikap yang terbuka dan saling percaya antara guru dan anak didiknya. Sosok guru harus tampil sebagai tokoh yang disegani dan bukan yang ditakuti. Terapkanlah kasih sayang dalam proses belajar-mengajar, guru harus menyadari bahwa setiap anak didik sebagai makhluk Tuhan, memiliki unlimited capacity to learn, sehingga guru harus bisa sabar, sebagai motivator dalam pengembangan diri anak didik tersebut.Seorang guru selain memiliki kemampuan dan kesabaran, juga harus memiliki kreativitas dalam membuka kemampuan anak didik. Dia harus memahami kondisi setiap anak didiknya yang memiliki intelijen dan karakter yang tidak sama satu dengan lainnya. Berikan peluang pada anak didiknya untuk memberdayakan kemampuan sendiri yang sesuai dengan pilihannya. Seorang guru juga harus memiliki keteladanan. Kata guru dari bahasa Jawa sering dikatakan sebagai yang di-gugu dan ditiru. Hal ini bermakna bahwa setiap ucapan, setiap tindakan, tingkah laku dari guru selalu dicontoh dan diteladani oleh anak didiknya. Dengan demikian, seorang guru harus menjadi role model mulai dari hal-hal yang sangat mendasar. Sebagai contoh, berperilaku sopan, bertutur kata yang santun, memahami nilai, mana yang baik, mana yang buruk, tidak menggunakan narkoba, dan tidak merokok bila di dalam kelas, cinta lingkungan dan selalu menjaga kebersihan, disiplin, dan tepat waktu dalam mengajar dan lain-lain.Hadirin sekalian,Saya teringat ketika anak saya masih kecil dulu. Dia sering sekali diminta oleh gurunya, pada waktu jam istirahat, “Tolong dong belikan Bapak rokok.” Jadi anak saya tersebut pulang-pulang marah-marah, “Kenapa saya ini selalu disuruh beli rokok terus,” katanya begitu. Saya juga terkejut mengapa guru melakukan hal ini. Malah anak didiknya yang dimintai tolong untuk membelikan rokok, inikan tanpa sebetulnya disengaja, tidak langsung, bahkan secara langsung saya katakan ini, berarti mengajari anak tersebut untuk merokok. Dia masih sangat kecil dan dia tentu saja marah-marah. Saya ingat kebetulan juga bersama-sama dengan anak kakak saya yang ada juga di sini, dia berdua yang sering sekali disuruh untuk membeli rokok dan itu teringat terus sampai dia dewasa.Saya pikir ini adalah hal yang tidak patut dilakukan oleh seorang guru, hal kecil, tetapi ini akan teringat terus sampai besar. Mudah-mudahan anak saya tidak menjadi perokok pada waktu dewasanya. Saya pikir ini harus diperhatikan, demikian pula dengan ketepatan waktu mengajar. Anak-anak diminta datang pukul 07.00, tetapi guru datangnya terlambat, dengan segala macam alasan yang katanya mungkin traffic jam, yang kadang-kadang juga dikatakan banyak pekerjaan di rumah yang menanti saya. Saya pikir itu memang menjadi alasan, tetapi sama sekali tidak dibenarkan alasan yang tidak boleh dibenarkan, kalau guru meminta anak-anak muridnya datang tepat waktu, guru seharusnya lebih mendahuluinya, atau juga paling tidak tepat waktu pula. Melalui keteladanan ini akan membentuk sekali lagi karakter moral bagi pengembangan perilaku setiap anak didiknya dan tentu saja akan melekat sampai dia dewasa nanti.Hadirin sekalian,Proses mendidik, membimbing, dan mengasuh anak didik yang dilaksanakan seorang guru adalah sebuah tugas yang mulia, walaupun sangat kompleks. Namun saya yakin bilamana faktor kemampuan, kesabaran, kesungguhan dan keteladanan diaplikasikan dengan baik dalam proses belajar dan mengajar, Insya Allah akan menghasilkan anak didik yang memiliki intellectual cohesion, emotional cohesion, spiritual cohesion dan adversity cohesion. Hadirin sekalian,Pada perkembangan teknologi yang demikian pesatnya, guru dituntut harus mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap perkembangan teknologi dalam konteks yang positif. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan teknologi dapat memberikan dampak positif, sekaligus dampak negatifnya. Dalam hal ini guru diharapkan dapat memberikan pengarahan yang tepat, karena kata-kata guru sering kali lebih didengar dibandingkan orangtuanya. Terus terang saja ini yang kita alami bersama, bahwa kadang-kadang bila orangtua yang menyampaikannya, kadang-kadang si anak mudah sekali membantahnya. Mungkin saja karena seorang orangtua kurang bisa memberikan apa ya, semacam kedisiplinan kepada si anak. Namun apabila guru yang menyampaikan jam 21.00 harus sudah tidur misalnya seperti itu, anak murid atau di rumah akan diikutinya. Tetapi kalau orangtua yang meminta anak supaya tidur lebih tepat pada waktunya, dia selalu mengatakan tarlu atau entar dulu, “Nanggung nih nontonnya masih baru separuh jalan”, itu yang selalu dilakukan oleh anak. Tetapi bila guru yang mengingatkannya biasanya anak selalu mendengarkannya. Oleh karena itu, saya pikir sekali lagi guru mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan anak-anak. Kita sadari masyarakat sering menuntut terlalu banyak kepada guru, seolah-olah pendidikan adalah tanggung jawab dari guru semata. Saya kira ini adalah sangat tidak adil, karena seyogyanya beban tersebut tidak saja dibebankan kepada guru saja atau guru semata, tetapi juga orangtua dan anak didik yang bersangkutan, atau anak itu yang bersangkutan. Saya kira kalau ketiga-tiganya bisa dibagi rata, pendidikan di rumah adalah tanggung jawab orangtua, pendidikan di sekolah tanggung jawab guru, dan selebihnya anaklah yang harus juga bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, insya Allah pendidikan di Indonesia akan mencapai sasarannya.Para peserta seminar yang berbahagia, Tadi barangkali sebelum acara resmi dimulai, hadirin sekalian sudah menyaksikan tayangan film mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Apakah sudah sempat tadi? Sudah sempat, baik. Dihadapkan dengan berbagai keterbatasan yang kita miliki, saya selaku pribadi sebagai Ibu Negara merasa terpanggil untuk turut menunjang upaya para guru memberikan pembelajaran kepada anak-anak yang membutuhkan. Dalam upaya ini, saya bersama-sama dengan SIKIB, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu memiliki program-program yang motto dan logonya tercantum di depan ini.Ibu-ibu sekalian,Ketika tahun 2004 Presiden SBY dilantik sebagai Presiden, kemudian terjadi musibah tsunami di Aceh dan sebelumnya Presiden dan saya ikut mendampingi beliau sedang berkunjung ke Nabire, daerah Papua yang juga habis mengalami bencana. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh berita tentang tsunami di Aceh, langsung dari Papua kami terbang menuju ke Aceh. Hari ketiga kami sudah berada di Lhokseumawe, Aceh dan di sana terkejut melihat ratusan ribu manusia hilang nyawa dalam sekejap mata. Disitulah saya menangis dan berpikir kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita.Ketika kembali ke Jakarta, saya memanggil Ibu Widodo dan seluruh Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Saya sampaikan apa yang bisa kita lakukan, kita harus bisa berbuat sesuatu. Akhirnya lahirlah Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, dari mulanya keprihatinan kita kepada rakyat Aceh. Tujuan dari kegiatan kita ini adalah tentu dalam membantu Pemerintah dalam bidang pendidikan, di sini yang kita sebut dengan Program Indonesia Pintar melalui motto “Gemar membaca meraih cita-cita”, dengan mengembangkan Mobil Pintar, Motor Pintar, Rumah Pintar dan, insya Allah, Kapal Pintar. Kapal Pintar sebetulnya kita sudah punya satu di Maluku, tetapi besok dalam Puncak Peringtan Hari Ulang Tahun ke-3 Mobil Pintar, kita akan meluncurkan lagi 2 Kapal Pintar. Ibu Okke Hatta Rajasa nanti akan menyampaikan latar belakang dari pembentukan program ini melalui Indonesia Pintar ini. Kemudian hadirin sekalian dan alhamdulillah pada awal kita melakukan kegiatan ini, kita bekerja sama dengan UNJ, dengan Universitas Negeri Jakarta. Bapak DR. Bejo tadi mengatakan Bapak juga mempunyai TK keliling Bapak ya. Apakah TK keliling ini juga sama dengan yang kita kembangkan, artinya dengan mobile atau yang mobile gurunya. Gurunya yang mobile, tetapi lokasinya tetap. Baik, yang mungkin agak berbeda dengan yang kita kembangkan adalah kita mobile tempatnya belajar. Tetapi karena suatu saat ada anak-anak yang menangis ketika Mobil Pintar itu berhenti 3 bulan di tempatnya, minta diperpanjang 6 bulan, kemudian bahkan minta supaya jangan dipindah lagi perpustakaan ini. Oleh karena itu, lahirlah Rumah Pintar, dimana-mana sekarang sudah ada. Kemarin Ibu Widodo tanggal 4 baru saja meresmikan Rumah Pintar yang ada di Ancol. Rumah Pintar ini sudah tersebar mulai dari Aceh sampai dengan Papua, demikian pula dengan yang lainnya. Nanti Ibu Okke Hatta Rajasa akan menjelaskan lebih jelas lagi dan barangkali guru-guru yang tersebar, baik di DKI maupun di seluruh Indonesia bisa ikut berpartisipasi, memberikan sumbangan, pikiran kepada konsep yang kita kembangkan ini, kita tentu saja akan menerimanya dengan senang hati.Ibu Widodo tadi juga sudah menyampaikan program kita juga meliputi Indonesia Hijau dengan motto “Mari selamatkan bumi kita”, Indonesia Sehat dengan motto “Bangsa sehat negara kuat”, Indonesia Kreatif dengan motto “Lestarikan budaya pacu kreativitas”, Indonesia Peduli dengan motto “Cinta dan peduli sesama”. Dengan berharap mengembangkan konsep tadi tentu saja kita berharap, anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang pintar, anak yang kreatif, anak yang sehat, anak yang peduli akan lingkungannya, dan juga mencintai lingkungan yang bersih dan hijau. Tentu saja kita berharap dapat membentuk kehidupan bangsa Indonesia yang sejahtera di masa yang akan datang. Para Peserta Seminar yang berbahagia, Tadi Ibu Widodo sudah menjelaskan beberapa narasumber yang akan tampil pada seminar sehari ini, diantaranya adalah Ibu Inke Maris, kemudian juga Ibu Ratna Megawangi Sofyan Jalil dan yang lain-lainnya. Timbalah ilmu sebaik-baiknya, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh para narasumber, berikan masukan-masukan, apabila itu demi kebaikan kita bersama. Semoga ceramah nanti ataupun ceramah dan pembekalan yang akan diberikan oleh para narasumber dapat menjadi bekal bagi para guru sekalian mengemban tugas di tempat masing-masing.Sebelum saya akhiri, saya ingin menyampaikan pesan dari Bapak Presiden Republik Indonesia untuk para guru sekalian. Para Guru yang berbahagia,Jangan pernah berhenti memberikan pengabdian yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga tugas mulia sebagai guru yang telah Ibu dan Bapak emban selama ini mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang cerdas dan kuat, sehingga sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Akhirnya selamat mengikuti Seminar Pencerahan Guru untuk kader bangsa. Selamat berkarya, selamat bertugas. Wabillahitaufiq walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 10 November 2008

Depdiknas Proses 8.167 Surat Keputusan Sertifikasi


Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), saat ini tengah memproses surat keputusan lulus sertifikasi untuk 8.167 guru yang telah mengikuti ujian sertifikasi. "Diusahakan bulan depan sudah bisa dibayar tunjangan profesinya," kata Direktur Profesi Pendidik Ahmad Dasuki saat ditemui di sela kunjungan Menteri Pendidikan Nasional di Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Kamis (11/9).
Dasuki menambahkan, dari 200.450 guru yang ikut ujian, 182,544 guru dinyatakan lulus. "Jumlah itu setara dengan 90 persen peserta,"jelasnya. Sementara, sepuluh persen lainnya tidak lulus karena belum melengkapi dokumen, tidak sesuai kuota, serta dinyatakan gugur. Dari jumlah yang lulus itu, 118.105 orang diantaranya telah mendapatkan surat keputusan pembayaran tunjangan profesi, 8.167 orang lainnya sedang diproses surat keputusannya. Sedangkan 55.272 orang terhambat pembayarannya.
Saat ini, lanjut Dasuki, Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara, sedang menyiapkan anggaran sebesar Rp 3 triliun bagi mereka yang belum mendapat pembayaran itu. "Kami masih menunggu berkas 55 ribu guru dari 61 kabupaten/kota itu," katanya.
Dasuki menyebutkan, 61 kabupaten/kota yang belum menyerap anggaran tunjangan profesi itu, berada di sembilan provinsi. Mereka adalah, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau dan Irian Jaya Barat. Pada kesempatan itu, Dasuki juga mengatakan, saat ini Departemen Pendidikan Nasional juga tengah memastikan pengangkatan 84.722 guru honorer dan guru bantu. Ditargetkan pada Oktober hingga Desember mendatang sudah diangkat 60.000 guru, dan 24.722 orang lainnya akan dimasukkan dalam formasi Agustus 2009.
Untuk mempercepat proses itu, Dasuki meminta seluruh guru honorer mengirimkan data ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Dinas Pendidikan setempat. Bila mereka sudah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil, maka secara otomatis menerima peningkatan kesejahteraan dan mendapat tunjangan fungsional. Mereka akan mendapatkan gaji berdasarkan golongan kepangkatan, tunjangan fungsional, serta tunjangan profesi. Gaji akan disesuaikan dengan masa kerja dan pendidikan terakhir. Jika sarjana pendidikan maka akan digolongkan di III/C, jika Diploma tiga atau pendidikan guru TK/SD masuk golongan II. Tunjangan fungsional bagi guru kontrak atau guru honor yang telah diangkat besarnya antara lain Golongan II sebelumnya mendapat Rp 280.000 pada 2009 menjadi Rp 460.000.
Sedangkan tunjangan profesi guru golongan III yang sebelumnya Rp 340.000 naik menjadi Rp 520.000 dan guru golongan IV sebelumnya Rp 370.000 menjadi Rp 560.000. Sementara tunjangan profesi yang akan dibayarkan yaitu satu kali gaji pokok.

KPK Tahan Danny Setiawan


Senin, 10 November 2008 20:07 WIB
JAKARTA, SENIN - Dua tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan alat berat dan mobil pemadam kebakaran di Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Danny Setiawan dan Yusuf Setiawan, akhirnya mendekam di penjara. Pada pukul 18.33 WIB, Senin (10/11), Danny ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan dititipkan ke rutan Bareskrim. Sementara Yusuf ditahan dua jam sebelumnya di rutan Polres Jakarta Pusat.
Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, mengatakan KPK memang memutuskan menahan mantan Gubernur Jawa Barat dan rekanan Pemprov Jabar itu pada hari ini. "Ya KPK memutuskan untuk menahan dua orang, Danny Setiawan dan Yusuf setiawan. Danny diduga melanggar pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20 tahun 2001," jelas Johan kepada wartawan.
Menurut dia, nilai proyek ini mencapai Rp 101 miliar dan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 56 miliar. KPK telah menyita Rp 12,5 miliar dari sejumlah tersangka dan saksi. Danny sendiri diduga telah menerima uang sebesar Rp 1 miliar dalam kasus tersebut.
Johan menambahkan masih ada dua lagi tersangka dalam kasus ini, Ijudin Budhyana (Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Jabar) dan Wahyu Mulyana (Kepala Biro Perlengkapan Pemprov Jabar). Namun, KPK belum memutuskan untuk menahan keduanya. "Proses belum selesai, masih terus berjalan. Yang dua belum tahu akan ditahan," katanya.
Penasihat hukum Danny, Abidin, mengatakan pihaknya belum mendalami penahanan itu. Sebab, kasus ini berawal dari disposisi Nuryana (Gubernur Jabar saat itu) ke sekda yang saat itu dijabat oleh Danny. Kemudian Danny meneruskan ke biro perlengkapan yang mewujudkan pengadaan alat berat dan damkar tersebut